Ketika Ranu Kumbolo Berbicara

/
3 Comments

Menurut saya, kenikmatan tertinggi dalam melakukan perjalanan hanyalah saat alam memberi kehidupan, tapi jangan merusak. Ketahanan fisik bukan masalah besar, melainkan kekuatan mental dan psikologis sangat di utamakan. Telah banyak campur tangan Tuhan dalam perjalananku selama ini. Bahkan sekali kejadian yang terjadi secara kebetulan. Ibaratnya, ratusan kali saya telah diloloskan dari lubang jarum kehidupan.

Sepanjang perjalanan saya melintasi jalan setapak dan tetesan keringat peluh basahi sekujur tubuh. Sebenarnya kita tak perlu terbang jauh menikmati keindahan alam semesta, cukup di sini. Di Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di kawasan TNBTS ( Taman Nasionak Tengger Semeru dan terletak diantara jalur pendakian menuju puncak Mahameru. Ranu Kumbolo sebuah danau yang mempunyai air bersih dan jernih sehingga banyak di gunakan sebagai lokasi beristirahat bagi pendaki yang hendak ingin esok harinya mendaki ke puncak gunung semeru.

Waktu itu, saya sendiri melihat langit yang dihiasi kilauan beribu-ribu bintang di atas langit. Di temani indahnya bintang dan diginya malam Ranu Kumbolo, cahaya matahari pagi mengintip di antara dua bukit, dengan malunya sedikit demi sedikit keluar dari sangkar. hawa dingin Gunung Semeru seakan terhapus dengan cerahnya sinar matahari pagi itu.

Berbagai sensasi akan di rasakan para pendaki saat sampai di ranu kumbolo. Tertiup angin pagi di ketinggian 2400 mdpl. Kabut putih menyelimuti permukaan Ranu Kumbolo, seakan menghangatkan suasana dingin di pagi hari di gunung semeru.

Mata seakan rugi untuk berkedip, kilatan blits dari kamera para pendaki Gunung Semeru membuat Ranu Kumbolo menjadi layaknya artis, Sebuah Keagungan Alloh SWT, tersirat dalam setiap detiknya. Karya Seni Sang Maha Pencipta dan Sang Pemilik Maya pada dengan komponen utama Alam, di iringi indahnya kicau burung di pagi hari, pepohonan hijau sebagai pemanis, permukaan danau Ranu Kumbolo seakan lembaran cermin besar yang di gelar asri. Ditambah udara segar Gunung Semeru yang tak mungkin kita dapatkan di kota.

Kicauan burung di pagi hari membangunkan diri yang mulai membeku. Kristal es di sepanjang hamparan rumput dan matahari menyilaukan cahaya emas dengan suhu hampir menembus titik beku. Garis cakrawala ujung langit di ufuk timur, menandai bias sinar matahari berwarna jingga yang perlahan berubah menjadi kuning. Mentari semakin meninggi, memberi kehangatan suasana dan kehangatan dalam hati. Di sini, saya bisa menikmati udara bersih, hijau sejauh mata memandang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Kuhirup perlahan dalam-dalam, segarnya udara pagi ini. Sungguh pagi yang indah dan menakjubkan.

Saya duduk sendiri memandangi ciptaan Tuhan yang begitu agung, Rumah adalah tempat di mana kita dapat menemukan cinta kita, tepat !!, Ternyata bahagia itu sederhana. Mungkin, bukan rasa yang kita cari melainkan suasana akrap yang kita cari. Akan selalu ada alasan untuk menunggu, Dan saya sadar, menunggu dan terus berusaha adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui setiap manusia.

Silahkan bermimpi, tapi jangan sekedar jadi seorang pemimpi. Jika kita hanya sibuk bermimpi, tanpa pernah menyibukkan untuk usaha mewujudkan mimpi tersebut, sungguh kita terjebak dalam mimpi-mimpi kosong kosong.
 


YOU MIGHT ALSO LIKE ARTICLES

3 comments:

  1. "Rumah adalah tempat di mana kita dapat menemukan cinta kita, tepat !! Ternyata bahagia itu sederhana. Mungkin, bukan rasa yang kita cari melainkan suasana akrab yang kita cari. Akan selalu ada alasan untuk menunggu, Dan saya sadar, menunggu dan terus berusaha adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui setiap manusia"

    nice words ^_^ menyadarkan saya dari ego karena lelah menunggu.

    ReplyDelete
  2. Cakep banget rankum, jadi pingin balik kesana :-)

    ReplyDelete

Catatan Harian Keong. Powered by Blogger.