Keindahan Pulau belitung dari ketinggian, Part III


Halo Sahabat, hari ketiga adalah hari terakhir kita berdua menelusuri Pulau Belitung ini, hari pertama keliling daratan pulau Belitung ceritanya bisa di baca disini, hari kedua menyusuri indahnya Pulau Belitung dengan melihat indahnya bawah laut ceritanya bisa di baca disini. Setelah sahabat baca ceritanya dan ini cerita terakhir penasaran? Hari ini saya meu keliling dimana? Dari pada penasaran langsung saja yuk cek ceritanya.
Hoaammmm Pagi telah tiba, Di hari ketiga ini saya berniat keliling di bukit karena daratan dan bawah laut sudah kita telusuri kurang lengkap rasanya sekarang saatnya kita melihat indahnya Pulau Belitung dari ketinggian.

Sebelum melakukan aktifitas pagi saya menyempatkan sarapan, tak lengkap juga mengawalin pagi hari dengan kegiatan tapi belum ngopi rasanya kurang nendang, ngopi pagi ini disekitaran Pantai Tanjung Pendam saya mencoba Kopi Kong Djie yang orang bilang kopu ini dan di tempat inilah Kedai Kopi Kong Djie berdiri. Tempat sangat sederhana dan merakyat, dan rasa kopi yang di sajikan heemmmm shabat harus nyobain rasanya wenak banget. Sambil nyeruput kopi dan bercerita kepada penjual kopi ternyata Kedai Kopi Kong Djie banyak mempunyai cabang loh. 
 

Selesai menikmatin kopi dan berbincang dengan penjual kopi langsung saya kembali ke penginapan langsung mandi, packing, dan sekalian cek out tujuan saya kali ini sebelum menikmati keindahan Pulau Belitung saya menuju ke jalan Ahmad Yani, samping kantor Bupati Belitong. Lesung Batang, Tj. Pandan, Kabupaten Belitung, tak lengkap rasanya jika saya berlibur tidak mengunjungi rumah adat nah disini terdapat rumah adat Belitung dimana didalamnya banyak beberapa baju adat, senjata, alat musik, semua serba khas Belitung.

Rumah adat merumakan identitas mutlak sebagai sebuah perwujudan identitas budaya sebuah bangsa dan daerahnya, begitu juga di Pulau Belitung yang memiliki rumah adat yang etnik dengan sebutan Rumah Gede atau Rumah Panggong. Rumah adat tersebut sengaja dibangun oleh pemerintah setempat agar para generasi muda dapat mengenal rumah adat Belitung yang sudah jarang digunakan saat ini. Rumah Adat Belitong tersebut diresmikan pada tahun 2009. 
 

Setelah puas menikmati rumah adat Belitung kita berdua melanjutkan perjalanan menuju danau Kaolin, Sebelum populer sebagai destinasi wisata berkat novel Laskar Pelangi, Belitung lebih dikenal sebagai pusat penambangan timah. Sebagian besar persediaan timah di Indonesia dipasok dari Belitung. Namun tak hanya timah, bumi Belitung juga kaya dengan mineral kaolin.

Danau Kaolin adalah saksi bisu kekayaan tambang Belitung. Danau itu terbentuk dari ceruk besar bekas penggalian kaolin yang dieksploitasi besar-besaran di kawasan tersebut. Terletak di Desa Air Raya Tanjungpandan, kubangan itu kemudian menjadi danau yang menarik wisatawan. Yang unik dari Danau Kaolin adalah airnya berwarna biru muda dan dikelilingi daratan berwarna putih. Paduan warna yang menakjubkan untuk diabadikan dengan lensa kamera. 
 


Panorama di Danau Kaolin akan mengingatkan kita pada Kawah Putih Ciwidey, Bandung. Bedanya, bau belerang yang menyengat tidak menguar dari Danau Kaolin. Perlu diketahui, bahwa kaolin adalah sejenis mineral tanah liat yang mengandung aluminium silikat. Material ini biasa dijadikan salah satu bahan untuk membuat porselen, kain, kertas, pasta gigi, hingga kosmetik. Daratan sekitar Danau Kaolin berwarna putih, karena mengandung mineral tersebut. Sejauh mata memandang, Kita terpesona dengan pemandangan unik di Danau Kaolin. Namun, matamu juga akan menangkap sisa eksploitasi penambangan dari relief batuan yang bentuknya tidak teratur.

Setelah puas menikmati pemandangan danau kita berdua bergegas menuju ke Batu baginde, perjalanan menuju batu baginde kita berdua menggunakan motor. Dari danau kaolin menuju batu baginde sangat jauh kanan kiri pemandangan saat perjalanan hanyalah hutan lalulintas jalanan sepi. Batu baginde berada di desa Padang Kandis, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.
 

Setelah bertanya-tanya ke warga setempat akhirnya kita tiba di lokasi Batu baginde yeay, setelah perjalanan panjang saya berjalan sekitar 15 menit di dalam hutan sampai ketemu batu besar dan kita saling bantu membantu untuk menaiki batu sampai atas. 
 

Sesampainya diatas wow pemandangan indah sekali saatnya kita berdua saling merenung dan menikmati pemandangan alam dan sedikit bercerita, ketika letih dan lelah kita usai kita berdua lanjut turun dan melanjutkan perjalanan pulang, dalam perjalanan pulang saya melewati sebuah pantai namanya Pantai Penyabong, kita berdua memutuskan untuk singgah sebentar pantai ini sangat sepi, tapi beneran deh pantainya bagus banget. Nikmatin View di pantai ini dan minum Kelapa Muda. Hmm nikmatnya di tenggorokan itu loh, selerrr! 
 

Usai menikmati suasana berhubung ini hari terakhir keliling Belitung dan harus pulang kita berdua melupakan diet dan menutup perpisahan pulau Belitung dengan kulineran. Kita berdua mencoba Mie Atep, mie khas belitung dan kemudian membeli Ketam. Ketam adalah makanan berisi daging kepiting yang sudah diolah. Duh sahabat rasanya ketam dicocol sambal wow wenak banget sahabat, ketam bisa dibawa pulang dan banyak macamnya. Ada risol ketam, ketam asli yang masih ada cangkang kepitingnya satu lagi otak-otak ketam. Trus cari oleh-oleh, dan kita berdua langsung beranjak dan menuju bandara.

Nah Sahabat, ini lah jalan-jalan terakhir saya di Pulau Belitung selama tiga hari dua malam. Sekian dulu ya sahabat nantikan cerita ngeong selanjutnya. Jangan lupa follow Instagram @KeongTraveler dan @jerukhangat

2 comments:

  1. Adem banget mas liat pemandangan nya, kapan ya sya bisa kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. langsung aja sahabat packing berangkat deket kok hhe

      Delete

Note: only a member of this blog may post a comment.