Kelenteng Tay Kak Sie - Semarang

 
Kalau sahabat sedang berada di Semarang, jangan lupa untuk mampir ke Jalan Gang Lombok. Di sana, sahabat akan menjumpai kawasan pecinan terbesar yang ada di Ibukota Jawa Tengah itu. Masuk ke dalam gang ini, kita akan menemukan salah satu Kelenteng tertua di Kota Semarang namanya Kelenteng Tay Kak Sie.


Kelenteng Tay Kak sie terletak di Gang Lombok No.62 Kelurahan Purwadinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Kelenteng Tay Kak Sie berada dikawasan lingkungan pecinan yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa. Selain Kelenteng Tay Kak Sie di kawasan ini juga terdapat Kelenteng Kwee Lak Kwa (Tri Darma Sinar Samudra ), Liong Hok Bio, Gang Tang Kee.

Pada awal berdirinya Kelenteng Tay Kak Sie bernama Kelenteng Kwam Im Ting yang didirikan oleh seorang pedagang yang bernama Kho Ping dan Bon Wie serta dibantu kawan-kawan mereka. Kelenteng Kwam Im Ting sendiri berdiri pada tahun 1746 yang bertujuan untuk memuja Yang Mulia Dewi Welas Asih, Kwan Sie Im Po Sat. Namun Seiring dengan perkebangannya Kelenteng ini kemudian berkembang menjadi kelenteng besar dan digunakan untuk memuja berbagai Dewa-Dewi Tao. Nama Tay Kak Sie yang berarti “ Kuil Kesadaran Agung” tertulis pada papan nama besar di pintu masuk Kelenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang 1821 – 1850 dari Dinasti Qing.

Kelenteng Tay Kak Si merupakan salah satu Kelenteng terbesar dan terlengkap di Semarang. Namun pada tahun 1771 Kelenteng ini berdiri di atas kebun Lombok. Sehingga Terdapat dualisme penetapan tahun pendirian Kelenteng Tay Kak Sie yang didasarkan atas dua persepsi yang berbeda. Pendapat pertama menetapkan masa pendirian Kelenteng Tay Kak Sie berdasarkan tempat pada tapak yang sekarang yaitu di Gang Lombok. Sedangkan pendapat yang kedua berdasarkan pendirian rumah pemujaan Dewi Kwan Sie Im Po Sat.

Kelenteng Tay Kak Sie walaupun telah melewati empat jaman (jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan dan orde baru), tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Hanya, pada saat orde baru, umat Tridharma mengalami kesulitan beribadah karena pemerintah pada masa itu melarang segala bentuk hal yang berkaitan dengan budaya Tionghoa. Maka pada masa itu, umat Tridharma terpaksa beribadah dan mengunjungi kelenteng secara sembunyi-sembunyi. Karena mereka takut jika ketahuan datang ke kelenteng untuk beribadah, mereka akan dikenakan hukuman oleh pemerintah pada saat itu.

Seperti kelenteng pada umumnya, Kelenteng Tay Kak Sie terdapat ornamen dan simbol. Patung Budha Gautama, terletak di bawah pohon Bodhi, yang berarti rindang atau damai. Atap kelenteng berhiaskan sepasang naga sedang memperebutkan matahari yang merupakan simbol penjaga kelenteng dari pengaruh jahat.Sedangkan matahari menyimbolkan mutiara alam semesta.

Tepat di depan pintu masuk terdapat singa jantan dan betina yang disimbolkan sebagai penolak bala, dan dilambangkan sebagai keadilan dan kejujuran. Pada daun pintu kelenteng, terdapat lukisan sepasang panglima perang Qie Lan Pu Sa dan Wei Tuo Pu Sa. Tidak jauh dari pintu masuk ada tempat abu hio besar, diapit dua lilin yang tak pernah mati sepanjang tahun. Pada dasarnya ruangan kelenteng ini dibagi menjadi 3 ruangan besar.

  • Ruang tengah untuk pemujaan utama. Yaitu tempat memuja Guan Yin Pu Sa yang didampingi Shan Cai. Ada pula meja pemujaan untuk Tri Ratna Buddha (Sam Poo Hud).
  • Ruang Kanan untuk memuja Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Hian Tian Siang Tee (Dewa Pengusir Setan), Koan Tee Kun (Dewa Keadilan), Jing Cui Co Su (Dewa Air), dan Te Cong Ong Po Sat (Dewa Pintu akhirat).
  • Ruang Kiri untuk memuja Thian Siang seng Bo, sang pelindung nelayan dan orang-orang yang berlayar. Ada pula tempat pemujaan 9 tokoh Cap Pwee Lo Han. Ruangan samping kiri ini juga ada tempat untuk memuja Poo Seng Tay Tee (Dewa Strategi), Seng Hong Lo Ya (Dewa Keadilan), Kong Tek Cun Ong (Dewa Pelindung Orang Hok), dan Thay Siang Lo Kun (Dewa Tertinggi Pengikut Taoist). Patung dewa-dewi yang dipuja di Kelenteng Tay Kak Sie berjumlah 33

No comments:

Post a Comment